Senin, 17 September 2012

Dasar-dasar Filosofis Konseling [Donald H. Blocher]



Salah satu pertanyaan yang sering diulang mengenai konseling bahwa konseling tersebut terfokus untuk mendapatkan hakekat kebebasan. Konseling bertujuan untuk membangun tanggung jawab (Patterson[14]). Konseling merupakan suatukebebasan yang bertanggung jawab”. Konseling juga merupakan, rencana yang sistematis yang berhubungan dengan kehidupan orang lain . Dengan tujuan untuk memperbaiki tingkah laku seseorang. Jika konselor melakukan tugasnya dengan baik, maka tujuan dari proses konseling dapat mempengaruhi kehidupan, derajat, dan juga tujuan perubahan tingkah laku seseorang.

ARTI PENTING FILOSOFI  KONSELING
Salah satu pertanyaan filosofis dasar yang harus dihadapi setiap konselor adalah peran gandanya sebagai seorang penasehat bagi individu dalam memutuskan suatu pilihan dengan kebebasan disatu sisi, dan disisi lain sebagai pembentuk perilaku manusia.
Seiring munculnya teknologi yang canggih dan dapat mempengaruhi perilaku manusia, menjadikan pertanyaan- pertanyaan sedikit berpengaruh terhadap filosofi kurang diperhatikan. Hasil penelitian mengenai psikologi experimental, menunjukkan bahwa perilaku verbal seseorang pada saat wawancara dapat dibentuk melalui dukungan. Krumboltz dan Thoreson  menunjukkan bahwa teknik ini dapat digunakan untuk membentuk perilaku berikutnya diluar wawancara.
Teknologi yang lebih mutakhir/ canggih lainnya yang melibatkan obat- obatan dan memanipulasi keturunan manusia telah berpindah dari dunia fiksi ilmiah ke dalam kehidupan nyata dalam beberapa tahun ini. Dalam penelitian dan media masa menggambarkan suatu program “manusia mesin” yang telah berevolusi dengan pertimbangan  atau tidak ada pertimbangan terhadapi etika dan implikasi sosial.
Joseph krutch meringkas situasi ini dalam sebuah pernyataan bahwa ilmuan tidak berani mengabaikan tingkahlaku:
Sebagai pengaruh, kekuasaan otoritas dan dalam masyarakat kita, karena mereka keluar dari pandangan filsuf dan teologi ke dalam tangan mereka yang menyebut dirinya “insinyur manusia” apakah mereka memfungsikan diri sebagai anggota parlemen, wartawan, guru, psikologi, atau bahkan pernah menjadi manajer iklan bahkan itu berlalu dari mereka menyadari pertimbangan nilai bagi mereka yang tidak lulus ke tangan orang- orang yang bertindak sangat inklusif dan menentukan penilaian. Sementara percaya  bahwa mereka bertindak atas prinsip- prinsip yang terbukti dengan sendirinya kebal dari kritik. Mereka tidak tau apa yang membuat mereka dan membuat kita ke dalam dan menolak untuk mengizinkan kita untuk menanyakan sejauh usaha mereka untuk kondisi manusia pada siapa mereka berlatih teknik keberhasilan. Mereka membuat sekecil mungkin bahwa asumsi mereka pernah menentukan akan dipertanyakan (9, p.29).
Kecuali konselor bersedia untuk diklasifikasikan dengan mereka yang tidak menyadari asumsi filosofis  yang mendasari pekerjaan mereka dan  memberikan perhatian secara cermat atas penilaian yang mereka buat.


PERMASALAHAN MENGENAI NILAI- NILAI DAN PENGARUHNYA
Penulis- penulis yang memiliki perbedaan pandangan, Sebagaimana Patterson (13) dan Williamson(19) menyetujui bahwa nilai yang ada pada diri klien tidak dapat dijauhkan dari pengaruh nilai pada konselor. Konselor berusaha untuk menyangkal tanggung jawab atas perubahan yang terjadi pada kliennya dan hanya akan mengakui ketidakefektifan secara menyeluruh. Penelitian oleh Parloff (12) dan Rosenthal (15) cenderung mendukung posisi bahwa perubahan nilai- nilai dan sikap klien selama proses konseling dan bahkan apabila terdapat kasus/ masalah yang berhasil mencapai tujuan, maka perubahan tersebut akan memiliki kesamaan dengan sistem nilai yang dimiliki oleh konselor.
Hobbs berpendapat bahwa: semua pendekatan untuk psikoterapi tampaknya memiliki konsep yang lebih atau kurang diuraikan sifat manusia. (5, p.76)
Hasil dari ambivalensi dan kebingungan telah membuat konselor menghindari berurusan dengan masalah atau area yang menjadi perhatian besar bagi klien, seperti perillaku seksual, agama, atau politik. Namun untuk konseling perkembangan semua area permasalahan tersebut harus tetap ditangani, karena konseling perkembangan merupakan konseling nilai.
Williamson mengatakan: banyak masalah perkembaganl dari klien timbul dari gangguannya atau konflik diantara pilihan nilai yang telah terbuka baginya untuk diadopsi sebagai motivasi dominan membimbing. (19, p521)
Ketika konselor membahas terkait dengan nilai sensitif, beberapa klien merasa tidak nyaman dan berusaha menyamarkan atau menyembunyikan system nilai- nilai sebenarnya yang mereka miliki. Mereka sendiri tampaknya merasa bahwa mereka harus menjadi netral, individual yang transparan. Permasalahan disini adalah sikap netral dan individual yang transparan tersebut memiliki kapasitas yang sedikit dalam membentuk hubungan antar pribadi yang hangat.
Seperti Patterson mengatakan: konselor tidak harus berusaha untuk menjadi individu yang bermoral, etis, netralamoral etis netral individual. Tujuan tersebut tidak mungkin dicapai – karena dalam kehidupan kita semua memiliki nilai. Upaya konselor untuk berpura- pura bahwa ia adalah amoral, tidak mungkin ia lakukan kepada kliennya, tetapi juga memungkinkan konselor tampil sebagai orang lain yang tidak seperti dirinya yang sebenarnya. (14, p.17)
Hal ini muncul bahwa sangat sedikit yang tersisa untuk konselor kecuali untuk mencoba datang untuk mengatasi masalah nilai yang dihadapi dan  melibatkan pembangunan sebuah filosofi pribadi konseling yang memungkinkan konselor untuk mengenali dan menangani masalah nilai dengan cara membantu klien dan diterima oleh konselor sendiri.

KEBERSAMAAN DAN KONTRAK PERKEMBANGAN
Beberapa pengamatan mengenai hakikat konseling cenderung bermanfaat untuk:  
Pertama, hal ini memungkinkan bagi konselor untuk menunjukkan nilai- nilainya dalam hubungan konseling tanpa memakssakan nilai tersebut pada kliennya. Konselor dapat menawarkan dirinya dalam hubungan konselin sebagai pengarah, bukan sebagai  model. Terdapat beberapa klien yang mengarah pada nilai yang dimiliki oleh konselor. Sdan beberapa yang lain menggunakan hal tersebut untuk mengasah nilai yang terdapat  dalam diri mereka sendiri dan mengaplikasikan nilai yang menjadi ciri khas mereka tersebut.
Kedua, konseling tidak hanya melibatkan hubungan klien, sebagaimana Meehl dan Mcchisky mengatakan. Tuijuan dari klien juga menjadi tujuan konselor. Konselor tidak hanya menjadi agen klien dalam memajukan, juga tidak mengikutinya, baaimanapun, konselor harus membantu mencapai tujuan yang berpotensi dalam diri klien. Proses konseling potensial terjadi ketika ada kebersamaan untuk mencapai tujuan antara konselor dan klien. Kebersamaan Ini dapat dibuat dengan melakukan komunikasi secara langsung atau mungkin terdiri dari suatu yang tidak terucapkan namun dapat dimengerti dan disepakati bersama.
Ketika kontrak ini telah disepakati oleh klien dan konselor, menjadi tujuan utama yang terakhir menjadi agen utama tetapi tidak satu- satunya untuk memilih metodologi untuk membawa itu. Konselor maupun klien perlu berlangganan setiap perkembangan yan berakhir kontrak dapat dianggap tidak bermoral. Ketika perkembangan kontrak tidak tidak masuk ke dalam dan titetapi bukan satu- satunya cara untuk memilih metodologi dalam penanganan suatu kasus. Ketika kesepakatan tidak masuk perkebangan selama proses konseling dan tidak ada kebersamaan yang nyata tujuannya, proses tersebut belum bisa  disebut konseling.

MEMBANGUN FILOSOFI PRIBADI KONSELING
Hal ini penting bagi konselor untuk membangun sebuah filosofi pribadi konseling yang cukup eksplisit baginya untuk menetapkan hakikat kontrak dan memilih metodologi yang akan dimasukkan dalam konseling perkembangan.
Membangun filosofi pribadi konseling adalah tugas perkembangan tugas utama konselor. Hal tersebut merupakan salah satu yang harus dilakukan konselor. Hal ini mungkin bermanfaat bagi dirinya, untuk memeriksa secara singkat beberapa sistem filosofis utama yang dapat digunakan sebagai sumber untuk membangun filosofi pribadi , seperti topik mengenai jenis- jenis treatment.      
    
DASAR FILOSOFI KONSELING
John Brubacher (3) telah mengusulkan pengelompokan sistem filosofis kontemporer ke dalam dua kategori utama yang berhubungan dengan proses konseling. Dia mengelompokkannya menjadi 2 kategori "esensialisme" dan " progresivisme ". Pengelompokkan tersebut mungkin bermanfaat.
Esensialisme. Kategori "esensialisme" dapat dikelompokkan dengan pendekatan yang biasanya disebut rasionalisme, idealisme, dan realisme.
Proses Filosifi Essentialistic pada dasarnya menyatakan bahwa manusia diciptakan dengan suatu alasan. Dan alasan utamanya adalah alasan untuk mengetahui dunia tempat tinggalnya.Kebenaran bersifat universal dan absolut dan tujuan hidup manusia adalah untuk menemukan kebenaran antara sesuatu yang memiliki essensi dan seuatu yang terjadi secara kebetulan. Wrenn (20)  membedakan 3 karakteristik dari sistem tersebut sistem seperti berikut in: (a) esensi realitas adalah suatu sistem prinsip-prinsip rasional dari berbagai aspek (b) alasan pembudidayaan adalah pencapaian tujuan utama pendidikan berbagai aspek, dan (c) alasan yang penting adalah dalam karya-karya pemikiran klasik (buku besar).
Idealisme agak berbeda dari rasionalisme dalam hal ini terdapat alam semesta merupakan ekspresi kecerdasan dan kehendak, bahwa substansi abadi dari dunia adalah hakikat dari, dan material yang dijelaskan oleh mental. Ide- ide merupakan sesuatu yang mutlak.
Menurut realisme, realitas tertinggi terletak pada objek dan situasi eksternal terhadap pemikiran  manusia dalam dunia "nyata" atau dunia yang obyektif. kenyataannya, alam semesta terdiri dari entitas subtantial yang ada dalam diri mereka sendiri, apakah mereka dikenal atau tidak.
Sistem essentialistic ini memiliki kesamaan, namun, keyakinan pada keberadaan yang tetap, mutlak tidak berubah secara mutlak dari yang baik, benar, dan yang indah. pencarian nilai bukan bersifat individual, melainkan bersifat secara keseluruhan dan dapat diselesaikan ketika sistemt ini dan dapat dipahami.
Seperti yang dikemukakan oleh Arbuckle (1), keyakinan terhadap nilai-nilai yang mutlak dapat menimbulkan beberapa kesulitan bagi para konselor. Dapatkah konselor yang secara tegas berkomitmen pada konsep mengenai benar dan salah, kebenaran, dan kesalahan, keindahan keburukan Yang memungkinkan klien memiliki kebebasan dalam mengembangkan nilai-nilai yang menjadi ciri khas mereka? mungkin kunci pertanyaan tersebut bagi konselor bukan mengenai apakah ia percaya pada keberadaan teori yang absolut,akan tetapi apakah ia percaya bahwa dirinya sendiri akhirnya mencapai pemahaman secara keseluruhan mengenai sistem yang mutlak. Untuk menentukan sejauh manakah "essentialistic" menunjukkan kualitas seorang konselor, yang mana disebutkan oleh Hoffer  "orang yang percaya pada kebenaran?"
Progresivisme
            Sistem yang kedua, disebut "progressivistic", mungkin dikembangkan dari kepastian lama yang membentuk dasar dari filsafat essentialistic. Iilmu pengetahuan,  terus menggerogoti gagasan-gagasan para pemikir klasik telah dianggap jelas, kepercayaan diri kurang dan kurang bisa ditempatkan oleh banyak orang dalam nilai mutlak itu sendiri.
Filsafat progressivistic memiliki sebutan seperti experimentalisme, pragmatisme, dan intrumentalisme. Wrenn (20) menunjukkan bahwa fitur utama dari sistem ini terletak pada gagasan mereka tentang kontinuitas antara yang mengetahui dan apa yang tidak diketahui, antara objek dan pengamat. Ilmuwan yang telah berpengalaman memiliki ketertarikan pada sebuah teori umum mengenai ilmu pengetahuan daripada memahami suatu fenomena tertentu. Ilmuan tersebut  beroperasi dalam konteks suatu masalah tertentu dan solusi cepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Sistem progressivistic tidak rasionalistik. Sistem ini tidak dimulai dengan asumsi kebenaran secara universal, tetapi dengan pengalaman yang spesifik dan beberapa pengalaman tertentu. Berpikir secara  progressivistic tidak peduli dengan generalisasi, melainkan dengan hasil yang empiris. Masa sekarang dan masa depan lebih ditekankan daripada masa lalu. Metode empiris digunakan untuk pemecahan masalah, akan tetapi tidak dalam keyakinan bahwa fakta-fakta yang diamati adalah sesuatu yang penting dalam diri mereka. Pertanyaan mengenai "Apakah benar?" itu kurang penting daripada "apa yang akan terjadi?". Fakta itu memiliki nilai agar berguna, bukan universalitasnya. Solusi dari masa lalu memberi jalan kepada orang-orang masa depan yang lebih bermanfaat. Kebenaran yang dihasilkan oleh konsekuensinya, tidak pendahulunya.
Nilai tidak memiliki keberadaannya sendiri. Mereka sebagai individu pengamat yang tidak memiliki nilai tetap dan nilai akhir. kebenaran bersifat dinamis di dunia yang selalu mengalami perubahan ini.

Experimentalisme adalah filosofi yang sebagian besar berdasarkan Psikologi Behavioristik Amerika. Bahwa hal tersebut  adalah pragmatis, yang bekerja secara baik; suatu tindakan yang telah di evaluasi secara murni dengan segala konsekuensinya. Tidak ada yang pasti, yang  ada hanya perkiraan relatif dan probalistic terhadap solusi.
Persoalan nilai yang diselesaikan bukan terpacu oleh spekulasi logis atau otoritas referensi, akan tetapi dengan jajak pendapat publik. Kinseys dan Gallups menggantikan platos dan Aristoteles sebagai ahli pada nilai-nilai. "Pengalaman publik" mendefinisikan apa yang dihargai atau dihukum


 
      Filsafat progressivistic bukan hal yang mudah bagi konselor. Meskipun ia telah menyingkirkan dirinya sendiri dari kepastian yang sulit dari masa lalu, konselor progresif telah menggantikan mereka dengan sanksi sosial yang tidak kurang dari suatu kekuasaan yang mengekang. Yakni kedewasaan dan kesehatan mental akan diukur dalam hal pengaturan dan kesesuaian? jika demikian, sesuai dengan siapa atau apa kelompok, atau lebih realistis, aspek yang penting adalah, arbiter yang terakhir dari apa yang baik, yang benar dan indah?
Seperti prestasi ilmiah abad kesembilan belas mengikis "kepastian lama" sehingga peristiwa tragis abad kedua puluh telah terhapus keyakinan dalam "kepastian baru" ilmu pengetahuan. Saksi kejadian di Auschwits dan Hiroshima tidak dapat disalahkan atas bprkembangan manusia ataupun moral masyarakat yang semakin rusak.
Eksistensialisme. kekosongan yang diciptakan oleh runtuhnya kedua dari kepastian lama dan baru telah datang pendekatan yang kadang-kadang disebut "kekuatan ketiga" dalam psikologi. "Eksistensialisme" adalah istilah yang sulit untuk diucapkan dengan konotasi Bohemian samar-samar, yang kurang berarti bagi kebanyakan masyarakat.
Pada dasarnya, eksistensialisme bukan berarti sebuah sistem filsafat baru, karena sumbernya berasal pada abad kesembilan belas.exsistensialisme terfokus pada kehidupan manusia dan pencarian manusia yang terkait dengan kehidupannya sendiri. A. van Kamm (17) menggunakan kata "eksistensi" yang artinya berani menghadapi sesuatu, berarti cara untuk berhubungan dengan dunia.Istilah ini berasal dari bahasa Latin, yang secara harfiah berarti untuk menghadapi atau muncul.
Mungkin kita dapat mendefinisikan psikologi eksistensial dengan cara seperti berikut ini:
       
Tidak ada hal seperti kebenaran atau kenyataan bagi manusia kecuali saat ia berpartisipasi di dalamnya, jika ia menyadari akan hal tersebut, maka terdapat beberapa keterkaitan untuk itu ... hanya pengalaman yang benar-benar dialami pada semua tingkatan, termasuk apa yang disebut bawah sadar dan tidak sadar dan tidak termasuk unsur keputusan sadar dan tanggung jawab - hanya kebenaran ini kekuatan untuk mengubah manusia (10.p.17)
Psikologi eksistensial tampaknya menggambarkan sikap dan pendekatan untuk manusia daripada sistem formal atau kelompok. Maslow menyatakan bahwa:
        
Bagi saya itu (psikologi eksistensial) pada dasarnya terfokus pada konsep identitas dan pengalaman seseorang sebagai hakikat  manusia dan pada setiap filsafat atau ilmu pengetahuan yang membahas mengenai hakikat manusia (10, p.53)
Beck (2) menggambarkan filsafat eksistensial sebagai daya  tarik dalam pemikiran filsafat modern. Filsafat ini telah dianut, baik dalam bentuk ateistik mapupun dan agama. Filsafat eksistensial menekankan pandangan realitas yang paling bermakna bagi eksistensi manusia itu sendiri. Eksponen eksistensialisme yang terkemuka adalah Jean-Paul Sartre, Gabriel Marcel, Paul Tillich, Martin Buber, dan lain-lain.

            Psikoterapi eksistensial melibatkan penerapan konsep-konsep kunci eksistensial untuk penyembuhan permasalahan emosional. Daseinanalyse, terkadang analisis eksistensial  merupakan salah satu pendekatan tersebut. Yang melibatkan upaya yang dilakukan oleh terapis untuk mendalami kliennya. Yang berarti, hal tersebut merupakan pendekatan yang menekankan pada sejenis respon tegas secara total  yang mana termasuk bagian dari terapis. Terapis  merupakan upaya untuk merekonstruksi struktur makna pribadi klien.

Beck (2) telah mengambil sejumlah asumsi yang sebagian besar diambil dari eksistensialisme yang tampaknya menawarkan dasar yang berguna bagi suatu filsafat konseling perkembangan. Sejumlah posisi ini disajikan dalam beberapa bentuk yang telah dimodifikasi, yang tertera seperti di bawah ini:

  1. Individu bertanggung jawab atas tindakannyaa sendiri. Ia memiliki ukuran dalam memilih dan harus membuat pilihan-pilihan untuk dirinya sendiri.
  2. Manusia harus menganggap sesama manusia sebagai obyek nilai, sebagai bagian dari kepeduliannya. Karena sesama manusia adalah bagian dari dirinya, ia harus mengajukan kepedulian ini kepada semua masyarakat.
  3. Manusia hidup dalam dunia yang  sebenarnya. Hubungan manusia untuk dunia ini adalah satu mengancam, bagi banyak dari apa yang dia temui dia tidak bisa berubah.
  4. Kehidupan yang bermakna harus menghapus ancaman sebanyak mungkin dari realitas, baik fisik dan psikologis. Tujuannya adalah untuk membebaskan diri dari ancaman sehingga dapat mencapai perkembangan yang optimal itu.
  5. Setiap orang memiliki pembawaannya sendiri dan  memiliki pengalaman unik bagi dirinya sendiri. Dengan demikian ia mungkin untuk dapat berperilaku berbeda dari orang lain yang pengalamannya mana jga memiliki pengalaman yang berbeda pula.
  6. Manusia berperilaku sesuai dengan pandangan sendiri, bukan menurut beberapa realitas obyektif eksternal yang telah didefinisikan. Perilaku judgeable dalam hal nilai-nilai pribadi atau tujuan eksternal.
  7. Manusia tidak dapat digolongkan menjadi yang "baik" atau yang  "jahat" oleh hakikatnya. Istilah-istilah ini mungkin berlaku untuk tujuan, sasaran, atau pola perilaku. mereka tidak memiliki arti bila diterapkan pada manusia itu sendiri.
  8. Manusia bereaksi sebagai organisme secara menyeluruh dalam situasi apa pun. Dia tidak dapat bereaksi secara intelektual atau emosional dengan mengesampingkan yang lain. Ketika manusia mencoba untuk "menggolongkkan" dirinya di dasar- dasar tersebut, ia menjadi cemas dan kurang bebas untuk mengembangkan dirinya secara terpadu.
Preposisi di atas tampaknya menawarkan suatu dasar yang memungkinkan untuk mengembangkan filosofi konseling. Hal tersebut berdasarkan Konotasi Religius. Mereka menawarkan dasar yang mana manusia dapat didekati dengan penerimaan dan cara berempati. Mereka menyisakan ruang yang cukup untuk berbagai pendekatan teoritis dan teknik. Konseling pada dasarnya mengandung tugas pribadi yang harus ditangani oleh setiap konselor. Masing-masing dari tiga jenis sistem filsafat yang dijelaskan secara singkat di sini dapat menjadi sumber bagi konselor dalam penelitian mengenai dasar filosofis sebagai latihan untuk keprofesionalannya. Beberapa fitur utama dari setiap sistem dirangkum dalam tabel 2-1


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar